ERROR
404 (Request Not Found)
today : | at : | safemode : ON
./ beranda ./ facebook ./ twitter ./exit /
name author permission com modified label
Showing posts with label Dongeng. Show all posts
Showing posts with label Dongeng. Show all posts

Dunia di balik Awan enterdie enterdie 0 Friday, June 07, 2013

Filename Dunia di balik Awan
Permission DienarRobusta
Author enterdie
Date and Time Friday, June 07, 2013
Label
Action
Sesekali belanjaannya diturunkan dan ia benarkan rambutnya yang mulai melorot dari ikatan. Lalu kembali berjalan pulang. Matahari yang terik membuat perempuan itu sesekali mengusap kening, menyeka keringat yang mulai membasahi sedari tadi ia berjalan.
“Pagi de’ Sally…malem ini tugas lagi ngga ya kira-kira?”, seorang lelaki setengah baya menyapa ditengah perjalanannya.
“Emang kenapa oom? yang kemarin belum puas??…”, tantang perempuan itu sambil tersenyum genit. “Awas lho ntar kalau si Ibu sampai tahu”, goda perempuan itu berlanjut tanpa canggung.
“Ssst…asal sama-sama tahu saja kan beres”, jawab lelaki itu dengan sedikit mengerlingkan matanya.
                                                                                *** ***
“Aku pulang bu….”, teriakan Jingga di ujung pintu depan.
Tidak seperti biasa sore itu mukanya kusut, kucel dan seperti memendam sesuatu. Tanpa basa-basi, ketika bertemu dengan perempuan itu, Jingga langsung memberikan sepucuk surat beramplop rapi warna coklat ke tangan perempuan itu, dan bergegas masuk ke kamar dan menguncinya rapat-rapat.
“Apa ini, nak??”, tanya tanya perempuan itu sedikit keras agar suaranya terdengar kedalam kamar.
“Baca saja sendiri…”, sahut Jingga dari dalam.
Dibukalah amplop itu dengan sekali sobek di ujungnya, dibukanya lipatan suratnya pelan-pelan agar tidak ada yang terlewat oleh matanya. Kiranya itu surat dari sekolah. Ketikan komputer rapih, dan berbagai macam tanda tangan serta cap cukup menjelaskan bahwa itu adalah surat sangat penting. Cukup panjang isinya, namun dipertengahan sudah dapat ditebak isi dari surat tersebut.
“Ndo…mbo yo koe metu ndisik, ibu sudah masak tadi siang. Ayo makan dulu….”, perempuan itu mengetuk beberapa kali lalu didekatkan kepalanya di pintu.
Selang beberapa menit terdengar suara kunci diputar, JIngga keluar dengan masih mengenakan seragam putih abu-abunya, wajah sedikit tertunduk cemberut, juga mata yang memerah – sepertinya tadi ia menahan tangisnya – langkahnya diseret malas, lalu bersandar di pinggir batas pintu kamarnya .
“Kapan kamu terima ini?”
“Tadi sepulang sekolah Jingga dipanggil ke ruang kepala sekolah, trus Pak kepala sekolah kasih itu”.
“Terus?”, tanya perempuan itu lagi.
“Terus..terus..emang lagi parkir mobil..??”, jawabannya terdengar setengah ketus dengan kepala yang masih tertunduk kebawah.
“Iki bener wis telung wulan tho?”, seperti yang tertulis disana, bahwa tenyata sudah 3 bulan uang sekolah belum terbayarkan.
Tanpa menggubris perempuan itu Jingga berpindah tempat, duduk di samping meja makan yang letaknya tak jauh dari pintu kamarnya.
“Kalau masalahnya cuma tentang pelunasan uang sekolahmu, kan memang begini keadaannya. Toh uang-uang sekolahmu selalu bisa ibu lunasi walaupun selalu telat beberapa bulan. Kita bukan orang kaya, ndo…ibu pikir kita juga sudah sering begini tho? kenapa kamu jadi tiba-tiba harus bersikap seperti ini…”, kata perempuan itu sambil menghampirinya setelah terdengar mulai terisak.
“Kita memang bukan orang kaya, Bu... kita juga mungkin orang yang kehidupannya jauh dari sempurna…tapi…”, kata-katanya ditahan.
“Tapi kenapa??”, dibelainya rambut panjang itu pelan.
Jingga mendongakkan wajahnya menghadap perempuan itu, menatap dalam beberapa saat. Beberapa saat sebelum akhirnya air matanya deras menetes membasahi pipinya.
“Kemana ibu tadi malam? Pergi dengan Pak Herman lagi ya? Kulihat ibu diantarkan pulang olehnya tadi pagi”
“Ya biasalah ndo, oom Herman…kamu tahulah kerjaan ibumu ini. Semua kan juga demi kamu…”, jawabku dengan sedikit senyum yang kubuat sewajar mungkin.
“Ibu tahu?? Aku sudah lelah dengan sikap ibu yang seakan tidak perduli, bu. Sikap ibu yang seakan tidak perduli dengan apa yang ibu kerjakan setiap malam. Aku juga sudah lelah untuk selalu mendengar apa yang selalu di katakan tetangga tiap subuh ketika melihat ibu pulang. Bisakah ibu mencari pekerjaan lain yang lebih layak??”, tambahnya sambil berlalu ke meja makan dan duduk disampingnya.
“Ndo..mbo ya tenang sebentar..”, kataku lembut.
“Ibu tahu pekerjaan yang selama ini ibu lakukan salah. Tapi ndo…inikan semua juga demi untuk kita, untuk kamu, anak ibu yang ibu cintai”, lanjutku. “dan lagi, pilihan apa yang kita punya??”, kudekati dirinya dan meraih pundaknya.
“Ibu tahu apa yang tadi dikatakan pak kepala sekolah ketika menyerahkan surat ini?”, potongnya cepat setelah berdiri dan mengambil surat itu dari tanganku, kemudian mengarahkannya tepat kehadapanku.
“Dia bilang…jika memang tidak mampu membayar tepat waktu…ibu boleh datang setiap malam kerumahnya dan semua biaya sekolahku akan dibebaskan olehnya”, suaranya mulai parau dan tersendat dengan ingus yang mulai mengalir dari hidung mancungnya.
“Memangnya kita ini apa, bu??”
Aku hanya terdiam dan sesekali mengusap air matanya yang tak henti-hentinya menetes.
“Bu…kita bukan barang, kita juga bukan binatang, kita ini manusia. Dan setiap manusia selalu punya pilihan dalam hidupnya. Aku akan lebih rela untuk tidak bersekolah atau hidup kelaparan daripada harus melihat ibu, dan hidup kita yang terus direndahkan seperti ini, bu”, sambungnya lagi dengan muka yang seakan memelas lalu setelah itu menepis tanganku dan berlari kembali masuk ke kamar sambil menangis, benar-benar menangis.
Saat itu aku hanya terdiam, tak ada yang bisa kulakukan. Kakiku terlalu lemah untuk menopang hatiku yang sakit melihat Rona menangis tadi, mataku mulai memerah namun tak setitik air matapun keluar dari mataku. Aku terlalu takut untuk menangis saat itu. Tuhan, Bantu aku…

*** ***
Malam itu tidak berbeda seperti malam-malam lainnya. Seorang perempuan punya janji melayani.
Didepan meja rias kamarnya, dipakai gincunya tebal-tebal. Di poles pemerah pipi tipis namun tegas agar kecantikannya semakin mempesona.
Walau saat itu waktu sudah menunjukan pukul 12 malam. Hatinya tak gentar. Yang mungkin dipikirkannya saat itu adalah malam akan berbeda, bahwa malam itu akan menjadi malam yang panjang untuknya saat ini.
*** ***
Aku memang mungkin tidak layak berjalan dimuka bumi ini. Tubuhku telah kotor, sangat kotor dengan liur juga dengan beribu-ribu cumbu. Telah basah dengan rayuan lidah pria-pria berotak ngeres. Bahkan mungkin jika bisa, kemaluanku sudah seharusnya kucopot dan kuletakan lantas menanggalkan predikatku sebagai seorang perempuan.
Satu-satunya hal yang membuatku bertahan karena aku punya kamu. Buah hatiku yang berharga, penyemangat hidupku, pengganti nafasku ketika mulai terengah pada hujaman ke sepuluh dari laki-laki ketujuh. Tak kah kau mengerti…
Bulan purnama semakin mengawang di angkasa. Hari ini adalah pas sebulan Rona tidak pernah menegurku lagi. Mungkin hatinya terlanjur sakit. Maafkan ibu, nak. Sepertinya ibu mulai mengerti, kau memang benar… manusia selalu punya pilihan.
Ku ambil catatan kecil di saku belakangku, tabungan kita sepertinya sudah lumayan. Dua bulanan lagi uang yang terkumpul akan cukup untuk membuka warung kecil didepan rumah kita. Dan setelah itu, ibu janji tidak akan ada malam-malam lainnya kau tertidur tanpa ibu disampingmu.
Malam itu daerah Pasar Kembang tidak seperti biasanya. Gemerlap lampunya begitu meriah. Banyak tawa terdengar di setiap gang. Kiranya malam minggu ini akan banyak yang datang, mengingat akhir pekan ini adalah awal dari liburan panjang.
Aku tengah bersender di tiang gapura gang, Gang masuk menuju ke rumah – atau lebih tepatnya tempat – dimana aku memuaskan keinginan pria-pria mesum setiap malam.
Beberapa kali colekan pemuda mengagetkanku. Ada juga yang sekedar menggoda atau cari-cari kesempatan menikmati kulit halusku, lalu berlalu usai memberikan kecupan di pipi.
“Aduuuh…jangan cuma berani ngesun dong….”, teriakku dengan nada yang kubuat seperti kesal namun tetap terdengar menggoda. Cukup menggemaskan bagi setiap pria yang mendengarnya.
Tak sadar malam semakin larut dan gelap semakin pekat dibalik lamunanku. Menyadari itu, segera saja kumatikan rokokku dan beranjak.
Kulihat pertokoan sudah tutup. Tak ada cahaya lain selain lampu pinggir jalan yang menerangi jalan Malioboro malam itu. Dipinggirannya tampak tempat makan gudeg yang mulai digelar kelasanya, menggantikan pedagang pakaian yang telah sepanjang siang berjejer mewarnai jalan.
Terakhir tadi sudah yang ke tujuh. Sepertinya yang berikutnya akan jadi yang terakhir malam ini. Aku terlalu lelah untuk begadang dengan malam hingga fajar datang. Usia kepala tiga ini membuat badanku sering menggigil hingga ketulang-tulang. Lagipula sudah mulai kurasakan dua bongkah daging di dadaku juga semakin membeku terkena udara malam ini, batinku
Langkahku terus terayun seiring hawa yang semakin dingin disekelilingku. Lambat laun semakin menusuk…dingin…aneh, ini terlalu dingin, ada apa ini??
*** ***
Malam itu memang tidak berbeda seperti malam-malam sebelumnya. Mungkin tidak dengan riasannya, atau mungkin dengan pakaian yang sering digunakannya. Tapi tas besar yang dibawanya hari itu, membuat semuanya tampak sangat berbeda.
Tergopoh-gopoh membawa tas yang besar, perempuan itu berjalan menyusuri gang gelap. Menuju jalan raya di ujung gang tempat dimana ia biasa menghentikan angkutan umum saat akan pergi ke kota. Kemudian tanggap mengayunkan tangannya ketika di lihat sebuah taksi akan melintas.
Tidak…jangan ragu lagi…jangan lagi, hatinya terus memantapkan tekadnya malam itu.
1 jam kemudian sampailah wanita itu di depan sebuah penginapan. Penginapan kelas melati. Sedikit menyeramkan dengan bangunan tuanya, tapi kiranya cukup bersih untuk penginapan sekelas lainnya. Ayo..masuk…, lagi-lagi langkahnya dimantapkan.
206, tiga angka terpampang dihadapannya.
Tok…tok…tok…, diketuknya pintu itu dengan lembut. Lalu setelah semenit berselang dibukalah pintu itu oleh pria gagah setengah baya berkulit putih bersih – hanya dengan lilitan handuk dipinggangnya. Tersenyum dan mempersilahkannya masuk.
“Mau langsung sekarang?? atau mau ganti pakaian dulu? sepertinya pakaian kamu sedikit aneh untuk perempuan seperti kamu”, Tanya pria itu setelah merebahkan tubuhnya yang gempal ke atas kasur.
“Saya ganti baju saja dulu ya, oom…nanti setelah itu baru kita mulai”, jawab wanita itu dengan canggung, lalu segera berbalik dan menuju ke dalam kamar mandi dibelakangnya. “eh…sebentar, kita belum kenalan. Siapa namamu dik?”, Tanya pria itu sebelum wanita itu masuk.
“Lintang oom….Rona Lintang Aurora”, jawabnya singkat lalu menghilang masuk ke dalam kamar mandi.
Tertegun didepan cermin westafel, perempuan ayu itu membisu. Ibu… maafkan Rona ya, bu. Semua pada akhirnya harus seperti ini. Tak ada cara lain, bu. Sejak malam ditemukannya ibu pingsan di pinggiran Malioboro, penyakit bronchitis ibu semakin menjadi-jadi. Ditambah flu tulang yang ternyata telah diderita ibu sejak lama.
Keheningan semakin menusuk dan tak sadar pipinya telah dibanjiri air mata, Uang yang ibu kumpulkan juga sudah habis untuk biaya perawatan ibu selama dirawat di Rumah Sakit. Jadi sekolah juga terpaksa ku hentikan dulu bu…sampai nanti ibu sembuh.
“DIK!! Kok lama sekali??”, sahutan dari luar kamar mandi mengagetkan lamunannya. “iya oom…sebentar…”, jawabnya cepat sambil mengusap air mata.
Selang beberapa menit keluar lah ia. Keluarlah seorang Rona yang berbeda. Begitu berbeda dengan pakaian dalam hitamnya yang transparan.
“Wah dik…ternyata seksi sekali kamu…mari sini…”, panggil si pria sambil mengusap-usap dadanya yang dipenuhi rambut dan menunjukan muka tidak sabar.
Ya..memang inilah kita, bu. Aku, kamu dan dunia kita. Tak banyak yang dapat kita perbuat saat ini, Rona perlahan membawa tubuhnya naik keatas kasur.
Tapi pasti, bu. Bila tidak mungkin esok atau lusa, entah kapanpun itu, aku akan membuat pilihan seperti pilihan yang telah kau ambil malam itu. PASTI. Itu pasti, karena kita masih manusia. 



#sebuah cerpen 4 tahun lalu

#RamaSinta dalam Dongeng enterdie enterdie 0 Friday, June 07, 2013

Filename #RamaSinta dalam Dongeng
Permission DienarRobusta
Author enterdie
Date and Time Friday, June 07, 2013
Label
Action
Dalam rasa hening batinku ini, aku duduk mematung menatap patung Rama Shinta di taman itu. Elok nian patung epos Ramayana ini. Romansa cinta Shinta pada sang Rama. Salahkah jika Tuhan menakdirkan aku mencinta padamu? Mengulang kesetiaan cinta yang terlukis dalam kisah Ramayana.

Di taman inilah kau pernah bisikan bait-bait asmara, saat rintik hujan menyiram tumbuhan berdaun jarum. Ya, pada deretan daun cemara ini, kita berlari mencari teduh, kini kau pergi dariku, meninggalkanku dalam kesendirian. Apa aku harus berteriak untuk memanggilmu kembali? Apa aku harus menjerit untuk merenggut jasadmu dalam kubur?, dan apa aku harus mengiba agar kau datang dalam mimpi malam nanti?. Tidak! Aku tak akan bisa melakukannya. Aku hanya bisa melelehkan bulir air mata ini sambil disaksikan cemara-cemara taman ini. Malang! Itulah peranku sekarang di hamparan bumi ini. Pilu! Itulah perasaanku di tinggal pergi sosokmu. Merana! Itulah jiwaku tanpa jiwamu di sini. Cacing-cacing tanah itu pasti dengan rakus telah meleburkan jasadmu, sayangku. Di sini jasadku membatu, seolah menambah satu karya seni patung di taman ini. Tidak! Aku tak akan bisa membatu di sini, meskipun begitu inginnya jiwa ini berada di sini membayangkan percintaan kita. Masa lalu dalam bisu mulut ini, kau ada menemaniku. Tapi kini aku berada dalam kebisuan cinta. Membisu jiwa ini saat tahu kau pergi dariku.

Kini aku merangkai kenangan-kenangan saat aku bertemu denganmu hingga kau pergi dariku. Dengarkanlah ceritaku sayang. Dengarkan dengan mata hatimu. Kumulai dari hati dan akan kuakhiri dari jiwa. Kurangkai dalam pikiran, tapi tak perlu terucap dalam kata. Cukup dengarkanlah kisah hatiku ini dalam sunyi dan senyap. Diam mematung di taman ini.

Kala itu kau menutup kelopak mataku saat aku duduk membaca buku Gymnospermae. Kebun raya Bedugul ini sangat cocok bagi tanaman berdaun jarum, ya apalagi kalau bukan cemara dari seluruh dunia. Aku senang mengabdi di konservasi ini sebagai seorang peneliti.

“I Made Rayana, ayo tebak siapa aku?”, ucapnya lembut kala itu yang datang secara mengejutkan dari belakang sambil menutup mataku dengan jemarinya.

“Eik ukh-ukh akh-ak-khaa: I Pu-tu Ca-ra-ka”. Hatiku senang sekali kala dia datang sambil menyelipkan bunga kamboja di sela-sela kuping kananku. Apa arti kata yang tak terucap jika dia dengan tulus menyayangiku yang gagu ini. Katanya aku wanita yang cerdas, manis dan baik hati. Duh, senangnya kata-kata manisnya. Saat semua orang acuh padaku, tapi dia datang menyelimuti hatiku.

“Yana, hari ini kau cantik sekali. Kau tahu, semalam aku menemukan banyak sekali tangkapan ikan. Rembulan berpendar indah mengobori langkahku saat melaut. Angin darat bertiup sepoi hingga memudahkan kapal kami mengarungi lautan. Pokoknya Yana, semalam indah sekali. Aku begitu semangat mengail, menjaring, dan menjala ikan. Sesekali kutatap rembulan malam, duh indah sekali Yana. Kau tahu kenapa indah? Karena wajahmu berpendar dalam bayangan rembulan. Aku tersenyum malam itu. Rindu sekali ingin bertemu denganmu, Yana. Baru aku sadari bahwa aku sangat mencintaimu”.

Aku terseyum menatap wajahnya yang polos, berbudi dan tampan. “Ekh-ahk-akh, akk-ukh ekh-ihk-akh ahk-ak-ukh? : Be-nar-kah, ka-mu me-li-hat wa-jah-ku?”. Aku menggerakkan jemari tanganku, mengucapkan bahasa isarat. Caraka tersenyum membelai lembut pipiku sambil menatapku penuh cinta.

“Benar Rayana, wajahmu ada di samping rembulan malam itu. Aku hanya mencintaimu seorang. Hanya kau yang bisa mengerti perasaanku. Kau adalah dewi Shintaku. Aku ingin menikahimu. Agar selamanya aku bisa bersamamu dalam menemani hari-hariku”.

Senangnya hatiku saat ia melamarku, aku sangat mencintainya. Tapi kalut hati ini jika aku menyadari kekurangan fisikku. Aku bisu. Oh, aku sampai menangis haru mendengar Caraka berkenan dengan tulus hati melamarku.

“Jangan menangis Rayana. Besarkan hatimu ya. Aku tak akan membiarkan rasa sedih hinggap di hatimu”. Caraka membasuh bulir air mataku, embun pagi menjadi saksi kata sakral yang ia ucapkan padaku.

Tiga kali aku mengangguk, satu kali menggeleng, dan akhirnya aku menunduk. Aku menggerakkan jemariku lagi sambil berkata, “Akh-ahk uhk akh-aks ukh-ukt ukh, akh-ukh ikh-hu : A-pa ku pan-tas un-tuk-mu, ak-u bi-su”.

“Cemara-camara Bedugul ini akan jadi saksinya, Yana. Mereka juga diam tanpa sepatah kata”. Jantungku berdetak bahagia sekali. Berdebar-debar rasanya, dan hanyut jiwa ini bersama pusaran cinta. “Biarpun kau bisu, jangan biarkan hatimu ikut membisu”.

Rintik hujan mengguyur, Caraka menggandeng tanganku. Kami berlari-lari kecil menghindari ribuan tetes air yang mulai berjatuhan dari langit. Di bawah rimbun pohon cemara ini tubuhku menggigil, gigiku gemelatuk, gemetar rasanya. Lebih hebat lagi gemetar hati ini karena cintanya. Caraka memelukku, tubuh yang aku rasakan kehangatannya, tubuh yang kucintai, aku merindu sekali pada tubuhnya. Demi sang pemilik maut, biarkanlah aku merasakan cintanya. Berharap bisa bersamanya hingga tubuh kami renta dan mati terkubur bumi.

Waktu berjalan mengikuti alur yang cepat. Dalam kebahagiaan rumah tangga bersamanya, aku merasakan hidupku sempurna, meski tanpa secuil kata. Caraka menjadi suami yang baik, dan selamanya akan terus baik. Hariku kulalui cukup sederhana. Aku selalu mempersiapkan bekal untuknya kala melaut.

Saat Caraka tak beranjak ke laut, biasanya kami menghabiskan waktu menikmati hamparan flora di taman Bedugul. Caraka membantuku mengidentifikasi pohon-pohon. Membantu merawat cagar-cagar budaya dan situs yang ada, dan kami sering bercerita tentang kisah Rama Shinta di bawah patungnya. Oh, hariku. Hari yang tak akan terlupa hingga menjadi kenangan abadi dalam pikiranku.

Sampai pada cerita kegetiran itu, tiba pada kenangan yang merobek hatiku, dan saat itu baru kusadari betapa pilu jiwa ini, hingga cintaku ikut membisu. Kebisuan yang di bawa mati, saat jasadnya hancur dalam kubur.

Tak ada tanda ataupun firasat yang hinggap padaku. Semua keseharianku kulalui dengan penuh kebahagiaan. Kala malam ia mengecup keningku mesra. Menatapku penuh cinta, membelai rambutku manja. Kusiapkan jala, pancing dan rantang makanan.

Satu kata terakhir yang masih terekam dalam pikiranku. “Rayana, kau siapkan apa untuk bekalku melaut?”. Aku memeluk pinggangnya dengan tangan kanan, sementara tangan kiriku memegang rantang. Kami berjalan keluar, kutatap wajahnya, itulah tatapanku yang terakhir. Tatapan penuh rindu, ranum dalam kebahagiaan.

“Ahk-ukh ukh-aht-ahn akh-uhk syakh-urhk ahk-ehm, ikh-ahn akh-ihn: A-ku bu-at-kan ka-mu sa-yur a-sem, ik-an a-sin”. Caraka melempar senyum. Kembali ia mengecupku. Tak di pungkiri lagi, karena itu adalah senyum dan kecupan yang terakhir darinya. Aku begitu rindu membayangkan senyumnya.

Langkahnya mantap menuju bibir pantai. Bersama kawan-kawan nelayannya, ia melambaikan tangan padaku. Tak aku sadari bahwa itu adalah lambaian perpisahan. Dari jauh aku melihat punggungnya yang kekar dan liat saat mendorong perahu ke jilatan air laut. Malam yang kelam, tiupan angin yang silir, tak aku sangka badai datang kala malam membahagiakan itu.

Hari berganti, malam pun pijar menjadi terang. Tidurku pulas, mimpiku indah dan pagiku cerah. Siang nanti Caraka pasti membawa kejutan untukku saat merapatkan perahunya ke darat. Sebagai istri, aku siapkan hidangan kesukaan suamiku. Rasanya tak sabar untuk menunggunya datang, tak sabar untuk menceritakan mimpiku semalam padanya. Aku mimpi bertemu dengannya. Wajahnya bersinar, tubuhnya tranparan, dan cahaya berpendar di sekitarnya. Benarkah Caraka-ku setampan ini? Di punggungnya ada sayap putih bersih. Ia memberi isarat sambil memegang pergelangan tanganku. Aku tahu maksudnya, ia ingin membawaku terbang ke bulan. Mimpi yang indah. Tak sabar rasanya ingin bercerita pada Caraka suamiku.

Siang itu aku menantinya, perasaanku girang bagai melayang. Hatiku terbang terbayang wajahnya. Kangennya hatiku ini, rindunya jiwa ini, hingga rasanya tak sabar lagi untuk segera menghambur dalam pelukannya, dalam wangi tubuhnya aku ingin ceritakan kisah mimpi indahku padanya.

Mentari kian terik. Aku menatap hamparan pantai, melihat kapal-kapal yang akan merapat, kesibukan para nelayan kian padat. Banyak ku dengar keluhan hari itu. Badai datang menghempas, tangkapan menyusut tajam, dan kerugian mulai nampak terlihat dalam wajah-wajah lusuh bercampur kecewa dari para nelayan. Masih kunantikan datangnya perahu Caraka, tapi hingga terik aku belum melihat tanda-tanda kedatangannya. Apakah ia berniat melaut selama beberapa hari? Kenapa? Harusnya ia memberitahuku jika akan melaut lebih dari sehari.

Cerita badai yang berdengung-dengung dalam pembicaraan para nelayan di pasar ikan cukup membuat hatiku bergejolak. Merinding bulu romaku, gemetar tubuhku, lunglai batinku. Kubayangkan ketakutan saat Caraka berlaga melawan badai yang menggulung gelombang. Pikiranku kalut. Hariku kian resah dan gelisah.

Dengan kebisuan mulut ini, kucoba untuk bertanya pada nelayan yang kiranya malam itu melaut. Apakah ada dari salah satu mereka yang melihat perahu Caraka. Mereka hanya menggeleng. Entah menggeleng karena tidak melihat atau gelengan itu karena tak mengerti ucapanku yang bisu. Ternyata bahasa isarat yang kupelajari tak dapat mereka mengerti. Komunikasi terputus, aku tak mendapat kabar secuil pun tentang suamiku. Hatiku secara perlahan di selimuti kegelapan.

Sampai pada malam ini pun aku masih menantikannya. Tidur tak lagi tenang, karena gelisah merongrong perasaanku. Semalam mataku tak bisa terpejam dari pembaringanku, ku usap bantal yang biasa menjadi sandaran tidurnya, kepeluk guling sambil membayangkan dirinya. Basah guling itu, basah bantal itu dan basah pembaringan itu. Aku tahu, aku hanya bisa menangis dalam kebisuan. Takut ditinggalkannya pergi. Dalam resah kutatap jendela kamar yang terhampar pantai dan pasar ikan. Aku masih menunggu. Ya, menunggu dalam rasa sedih yang mencekam hingga urat-urat nadi peredaran darahku. Darahku berdesir, jiwaku lingsir, hatiku pun terkilir.

Benar-benar galau dan risaunya dalam penantian ini. Apakah aku bisa melihat wajahnya besok pagi? Kalau bisa, aku akan memeluknya lama sekali. Erat dan tak terlepas dariku.

Pagi itu kudengar gemparnya wajah pantai. Ramai oleh penemuan-penemuan raga tak bernyawa. Terhempas dan terseret-seret oleh gulungan ombak. Riuh dan mencekam. Semua gelisah. Warga resah. Dalam samar dan silir aku mendengar isak tangis. Tangis pilu meratapi jiwa yang pergi.

Aku berlari dalam kerumunan orang yang membawa raga-raga itu ke pinggir pantai. Aku melihat banyak tubuh pucat membiru yang berjajar dalam ratap sedih tangis keluarga yang di tinggalkan. Aku masih mencari, ya mencari raga dari cintaku. Aku berharap Caraka berdiri memelukku, bukan aku yang memelukknya, seperti mereka yang di tinggal pergi dalam kematian. Kenyataan itu kian membesut cepat nyawaku dalam ketegangan, karena aku tahu aku harus memeluknya saat tubuh itu terkapar di atas pasir putih. Tubuh suamiku, kaku membatu.

Tangis? Jelas aku menangis. Sedih? Jelas aku bersedih. Histeris? Tidak! Aku tak menangis histeris. Aku wanita bisu, mana bisa aku bersuara dalam tangis. Tapi hatiku menjerit-jerit, seolah tak rela tubuh malaikat dalam mimpiku benar-benar pergi ke bulan dan membiarkanku terdampar sendiri di bumi. Caraka, sayang! Dengarkan suara hatiku, hanya dengan suara hati aku bisa bicara denganmu. Meski kita berbeda dimensi kehidupan, tapi perasaan ini benar-benar terikat padamu. Cintaku bicara meski dalam kebisuan.

Kepeluk ragamu yang membatu, ku kecup bibirmu yang membiru, sambil kubisikkan lirih ketelingamu, bukan dari mulut bisu ini, tapi bisikan kata hatiku: Cintaku ada meski dalam kebisuan, hatikulah yang berkata bukan lisan bisu ini.

Kini tubuhmu lebur dan menjadi satu dalam tanah kubur. Mulut ini masih membisu, sayang. Tapi hati ini terus melantukan kata-kata doa, semoga engkau yang disana selalu bisa mengingatku. Seperti aku yang di sini juga selalu mengingatmu dalam kebisuan cinta. Bisu tak berkata, bisu tak terucap, dan bisu tak bersuara.

`Dalam bisu ini, aku akan mendidik benih di rahimku, bukan dari suara lidahku, tapi dari suara hatiku. Anak kita. Ah! Caraka, andai kau bisa melihatnya saat ia lahir ke dunia, aku yakin dialah malaikat kecil yang hidup dalam kebisuan kasih sayangmu. Tapi akan hidup bersamaku, menemaniku, sampai usiaku udzur dan akhirnya jiwaku pun pergi menggapai jiwamu. Adakah cinta sejati dalam kebisuan ini? Hanya aku, karena dalam kebisuan aku mencintaimu.



Note:
dari catatan yang pernah kubaca entah dimana dan kapan #lupa

Duka Hilangnya Dua Gunung Suci Suku Amungme Papua enterdie enterdie 0 Saturday, April 28, 2012

Filename Duka Hilangnya Dua Gunung Suci Suku Amungme Papua
Permission DienarRobusta
Author enterdie
Date and Time Saturday, April 28, 2012
Label
Action
Seorang ibu Amungme berpakaian compang camping bertelanjang kaki duduk sambil mencuci kaki di tepi sungai Aykwa yang telah tercemar tailing tambang sambil meratap dalam bahasa Indonesia yang terbata-bata :
Ayuu…Dorang su Ame kami pung mama pung kepala, semua sudah ancur, kami sedih, kami sakit hati…..
(aduh, mereka sudah ambil kepala ibu kami, semua hancur, kami sedih, sakit hati..).
Tangisan dan kesedihan ibu ini adalah tangisan orang papua dari suku Amungme. Amungme berasal dari 2 kata, Amung artinya utama dan me artinya manusia. Jadi pengertiannya mereka adalah manusia utama. Menurut cerita dari para leluhur mereka, suku Amungme berasal dari sebuah gua yang sekarang disebut Lembah Baliem atau Mepingama ( tempat manusia keluar pertama kali).

Menurut mitos yang mereka yakini, zaman dahulu manusia berdiam di dalam gua. Di dalam gua terdapat semua jenis tumbuhan dan binatang. Alkisah suatu ketika orang-orang berada di dalam gua ingin keluar untuk melihat kehidupan luar di gua. Namun tidak ada seorangpun yang mampu membuka pintu gua kecuali seorang sesepuh adat mereka dengan membaca mantra-mantra tertentu. Saat waktu yang diinginkan mereka ingin keluar, sesepuh tua itu membaca mantra-mantranya dibantu seorang gadis yang masih suci dan mereka pun berhasil membuka pintu gua itu.

Akan tetapi masih ada yang menghalangi mereka untuk bisa keluar dari gua. Saat itu permukaan bumi masih tergenang air. Untuk mengetahui kondisi di sekitar lingkungan gua, diutuslah seekor burung nuri dan menanti datangnya kembali sang burung. Ternyata burung nuri tidak kembali juga. Maka diutuslah seekor burung murai atau negelarki. Saat burung murai kembali, paruhnya terbawa lumut dari air yang mulai mengering. Hal ini menandakan bumi sudah mengering. Esok harinya orang-orang mulai keluar dari gua dan berjalan mengikuti arah sinar matahari, arah ke barat.

Selama perjalanan, orang-orang menebarkan bibit-bibit tanaman dan melepas semua jenis binatang. Sampailah mereka pada sebuah gunung. Me-arangguma-bugin yang artinya gunung kebahagiaan dan perpisahan. Dan orang Amungme percaya mereka adalah rombongan manusia yang pertama kali keluar dari gua. Disusul rombongan dari suku-suku lain, seperti Ekagi, Moni, Wolani.

Orang Amungme percaya mereka adalah intisari dari alam sekitar. Alam memberikan manfaat yang besar bagi kehidupan sehingga orang Amungme sangat menghargai dan mencintai alam sekitar. Caranya dengan tidak sembarangan merusak lingkungan hidup. Jika ada yang merusak alam, orang Amungme akan berkata :

“Enane taram agan iwiatongengee, Em arap nap atendak, mesin arop nap atendak, oleh arap nap atendak, ib arop nan atendak. Kelap arop nan atendak, iatong heno, Inak juo onen diamo !”
( Anak-anak mengapa berbuat demikian, padahal kamu tahu bahwa pohon itu adalah diriku, anjing itu adalah aku, air itu juga diriku, tanah pun aku, batu itu pun diriku. Berbuatlah semaumu, aku kan mengawasimu”)

Bagi orang Amungme, tanah bukan hanya bernilai ekonomis, melainkan bermakna magis religius. Tanah ibarat seorang ibu yang memberikan kehidupan bagi anak-anaknya. “Tanah adalah ibu kami”, ungkap mereka.

Suku Amungme menganggap daerah pegunungan salju termasuk puncak-puncak gunung tertinggi bersemayamlah Jomun-Temun Nerek, para leluhur suku Amungme. Puncak gunung Carstenz, Ertsberg, Grassberg beserta lembah-lembah sekitarnya sebagai wilayah keramat yang suci tidak boleh diganggu gugat. Di kawasan kepala ibu itulah konon mereka berasal dan nenek moyang berada. Daerah asal yang bernilai religius-magis inilah yang saat ini porak poranda oleh kegiatan tambang emas dan tembaga oleh Freeport.

Kehadiran Freeport yang mengambil alih seluruh tanah masyarakat ( yang dalam pandangan suku Amungme mengandung kekuatan magis dan mitologis) menyebabkan kosmologi suku tersebut terguncang sampai ke akar-akarnya. Guncangan itu semakin merasuk dan bertambah parah akan kehadiran orang - orang asing yang dipekerjakan di tanah mereka dan dalam perkembangannya suku Amungme yang dulunya merupakan pemilik tanah , saat ini hanya menjadi penonton di atas tanah uluyat mereka sendiri.

Perubahan yang mengguncangkan tersebut dapat terlihat dari lenyapnya beberapa puncak gunung yang bernilai magis dan mitologis bagi mereka, menjadi sumur-sumur raksasa yang menganga lebar.

Meskipun masih ada gunung-gunung yang kelihatannya masih utuh, di dalamnya sudah keropos dengan adanya terowongan-terowongan besar yang berlapis-lapis. Ditambah penjagaan militer yang ketat setiap harinya, membuat orang Amungme sama sekali tidak bisa mendekati dan menyentuh wilayah keramat mereka. Terlebih semua daerah konsesi Freeport saat ini dipagari kawat berduri dan penjagaan militer bersenjata lengkap, seperti di pos mile 64 sampai 78. Bahkan untuk masuk wilayah Tembagapura diperlukan surat izin khusus dari kantor Freeport di Jakarta.

Belum lagi kawasan keramat yang lainnya disekitar freeport sudah berubah menjadi kawasan pemukiman pekerja freeport dan kawasan transmigrasi program pemerintah. Daerah ini sudah menjadi infrastruktur kota Freeport. Dengan demikian tanah-tanah suci dan dikeramatkan oleh orang suku Amungme sudah berpindah menjadi tanah-tanah milik Freeport.

Jadi jangan terkejut bila ibu Amungme selalu menangis dan sakit hati bila melihat orang Freeport yang bekerja di atas tanah keramat mereka.

Ditambah sakit hati mereka, keadaan ekonomi yang harusnya mereka ikut merasakan manisnya tembaga, emas, nikel, tapi tidak mereka rasakan.

“Kami ingin berada di Irian Jaya lebih dari 100 tahun” (Milton H Ward, Chairman of The Board of Directors Freeport Indonesia Inc, 1991)

“Freeport adalah pelopor penanaman modal asing di Indonesia”(Soeharto, 03 Maret 1973)

Kedua suara inilah yang menyebabkan gaung ketidakadilan dan ketidakmerataan ekonomi di Papua mulai tumbuh. Yang satu menjual bangsanya sendiri dan yang satu menjajah bangsa orang Amungme.

Masihkah Pemerintah terus berdiam diri melihat duka orang Amungme yang bertahan dengan hanya memandang tanah dan gunung keramat mereka sudah berubah ? dan menjadi milik bangsa lain ? Atau kita yang tega menjual tanah mereka dengan segelintir kekayaan ?

—————kisah ini diceritakan oleh Yesaya Haluk, seorang Pemuda Papua yang menjadi mahasiswa di salah satu Universitas di Bali dengan terisak dan tangisan hati yang memilukan– Sabarlah Pace….————–dari blog salah seorang hasil googling yang saya juga lupa alamat blognya.

Casablanca 3-1-0-3 enterdie enterdie 3 Friday, April 27, 2012

Filename Casablanca 3-1-0-3
Permission DienarRobusta
Author enterdie
Date and Time Friday, April 27, 2012
Label
Action



Ada rentetan huruf yang belum sempat tereja. Tersimpan dalam buku waktu. Kutelusuri satu per satu halamannya. Hingga kutemukan mereka.
Buku waktu..
Aku sedikit tahu bab awal, tapi aku tak tahu kapan bab terakhir, yang kutahu aku harus terus membuka satu persatu pada suatu halaman, sudah aku siapkan pembatas buku berupa secarik kertas hitam. Aku terhenti dan berhenti disitu dan cukup disitu saja.
Terantuk di satu masa, ingin kusobek halaman berpembatas itu. Kuremas-remas dan kucabik-cabik hingga remuk, lalu kubuang saja di sampah karena di halaman itu, kata kata yang tertulis terlalu tajam seperti belati. Ceritanya menyakitiku. Huruf-hurufnya menerjang akal sehatku. Setiap paragrafnya melumpuhkanku.
Aku terduduk di lembah bisu. Tak mampu lagi aku melanjutkan bacaan itu.

Hari ini, saat tadi bersama mereka aku kembali melanjutkan bacaan itu dan menemukan titik-titik kebebasan jiwa akan rasa, semoga begitupun dengan mereka dan selanjutnya lingkaran pertemanan kami rupanya saling membuat garis, kita semakin sering berjumpa, kita berteman setelahnya hingga kini bahkan bukan lagi sekedar berteman. Kemudian, lahir ribuan teori kehidupan.

1105 enterdie enterdie 2 Friday, April 20, 2012

Filename 1105
Permission DienarRobusta
Author enterdie
Date and Time Friday, April 20, 2012
Label
Action
Aryaduta 1105, march 24 2012

Kuhempas asap menjelang dini hari, disini saya terkagum sendiri, mereka begitu santai menikmati waktu, kenapa aku selalu terbeban yang entah apa setiap di tempat-tempat baru seperti ini?Wow, ini kali pertama saya mampu menikmati waktu setelah aku memutuskan untuk hijrah dari papua ke pulau jawa yang sesak ini.Beruntunglah aku memiliki mereka, segelintir insan yang tidak pernah meneropong kelemahanku.Tapi tetap saja ada keberatan di hati, entah apalah itumungkin saja karena ketidakmampuanku, ketidaktahuanku atau apalah itu.Yang jelas, bersama mereka aku bisa sedikit lupa tentang keseharian dan rutinitasku yang mungkin menurut sebagian orang sangat tidak manusiawi.Hmmm...jenuh dan bosan melanda ingin mengungkapkan keluh kesah bagaimana jika sebelum aku sempat berucap keluhku sudah didahului dengan serentetan omongan yang terkesan memilukan dan itu sangat membosankan buatku. Itulah sekelumit kehidupanku di kota bagian lain sana.Disini, aku begitu bebas berekspresi dengan mereka, menikmati waktu dengan bermain kartu, juga perayaan kecil ulang tahun sahabatku.Selamat ulang tahun sobat, semoga harimu selalu indah dan penuh hikmat. Apapun yang menjadi keputusanmu itulah yang terbaik untukmu, untuk orang-orang terdekatmu, dan juga keluargamu. Maaf aku tidak mampu memberikanmu apa-apa kecuali berdoa untukmu dan semampuku memberikan pendapat jika kamu butuh pendapatku.Hidup ini memang terkadang sangat menyedihkan, tapi biarlah cukup kita dan Tuhan saja yang tahu seperti apa kekejaman hidup ini yang sebenarnya.

Monyet dan Kepiting enterdie enterdie 0 Tuesday, November 15, 2011

Filename Monyet dan Kepiting
Permission DienarRobusta
Author enterdie
Date and Time Tuesday, November 15, 2011
Label
Action
TERBAIK MENURUT KITA, BELUM TENTU TERBAIK MENURUT ORANG.....
Di suatu pantai, hiduplah seekor kepiting, yang berteman akrab dengan seekor monyet.
Setiap hari si Monyet ke pantai dan mengobrol bersama si Kepiting.
Monyet selalu bercerita kepada Kepiting tentang asyiknya berada pada pohon yang tinggi sehingga bisa melihat alam yang indah, berayun-ayun sambil bermain di pohon, serta mendapatkan makanan yang enak-enak di atas pohon.
Lalu suatu hari Monyet berkata kepada Kepiting, " Kepiting, saya kasihan kepada kamu, karena kamu hanya bisa melihat air saja, dan tanah, kamu tidak pernah bisa melihat keindahan laut sesungguhnya dari atas pohon, dan menikmati makanan enak di atas sana. Bagaimana kalau hari ini saya akan bawa kamu ke atas pohon untuk menikmati alam ini"
Kepiting menjawab, "Terima kasih Monyet, tapi saya takut ketinggian, dan saya tidak bisa memanjat."
Lalu jawab sang Monyet, "Tidak apa, saya akan menggendongmu ke atas sebentar saja."
"Terima kasih Monyet, saya sudah senang dengan keadaan saya ini." tolak halus Sang Kepiting.
Namun sang Monyet terus memaksa, dan berjanji hanya sebentar saja,dan akhirnya sang Kepitingpun bersedia.
Lalu sang Monyet mengangkat Kepiting ke atas sebuah pohon kelapa yg tinggi, sehingga Kepiting dapat melihat alam lebih banyak.
Sang Monyet lalu turun dan segera mencari setandan pisang untuk dibawa ke atas pohon kelapa.
Setibanya sang Monyet di atas, kagetlah sang Monyet mendapati sang Kepiting telah berubah warna menjadi merah, dan mati karena kekeringan dan kepanasan.
Banyak hal yang kita pikir dalam melakukan kehidupan ini baik, dan kita sering memaksakan kehendak kita kepada orang lain karena merasa hal itu baik, namun akibat pemaksaan kita itu tak jarang justru apa yang kita rasa baik itu malah menimbulkan banyak masalah di dalam kehidupan ini.
Mari belajar memulai memperbaiki hidup ini dengan memikirkan secara bersama yang terbaik dan tidak memaksakan kehendak kita.
Kisah inspiratif yang mungkin sudah banyak di baca oleh orang orang, namun berapa banyak yang benar memaknai isi cerita diatas.
Keegoisan sepertinya sudah menjadi sifat utama manusia. semua inginnya sempurna tapi kadang kita lupa tidak ada yang sempurna, nyaris sempurnapun bahkan tak ada. Kisah diatas "mengganggu dan melukai ego" saya, dengan keegoisan diri dan juga target yang menurut saya masuk akal saya paksa orang untuk melakukannya. Padahal belum tentu target yang saya punya bisa juga dimasukkan jadi target orang lain.

Kitab Delapan Mata Angin enterdie enterdie 0 Saturday, November 12, 2011

Filename Kitab Delapan Mata Angin
Permission DienarRobusta
Author enterdie
Date and Time Saturday, November 12, 2011
Label
Action
Ada seorang murid yang sudah bertahun-tahun belajar ilmu kebijakan dari seorang guru di sebuah pulau terpencil. Kini ia merasa telah cukup ilmu dan berniat untuk mengabdikan dirinya pada masyarakat di seberang pulau. Singkat kata, ia pamit pada sang guru dan meninggalkan pulau terpencil tersebut. Beberapa lama kemudian ia mendirikan sebuah perguruan dan memiliki banyak murid pula. Teringat ia pada sang guru, ia ingin menunjukkan hasil pengabdiannya selama ini. Ia lalu menulis sebuah kitab yang berisi ajaran-ajaran kebijakan.
Kitab itu diberi judul "Kitab Delapan Mata Angin" karena bila orang mengamalkan isi kitab itu maka ia akan tetap tegar dalam kebenaran meski didera angin badai dari delapan penjuru mata angin. Ia mengutus seorang muridnya untuk mengantarkan kitab itu pada gurunya di seberang pulau.
Sang guru menerima kiriman "Kitab Delapan Mata Angin" dengan suka cita. Namun, setelah membaca isinya, tanpa terduga-duga beliau mencorat-coret sampul kitab itu dengan tulisan "Kamu tak lebih dari angin kentut belaka."
Sang guru mengembalikan kitab itu. Betapa terkejutnya si murid ketika menerima dan membaca tulisan sang guru. Mukanya merah padam. Ia memutuskan untuk menemui gurunya dan meminta penjelasan apa maksud tulisan itu. Bergegas ia melepas tali perahu dan mendayung sendiri menemui gurunya.
Sesampai di sana, ia langsung bertanya pada gurunya, "Apa maksud guru menulis kata-kata kotor seperti ini?"
Jawab sang guru dengan kalem, "Lho... katanya kamu mampu bertahan dari gempuran angin badai yang datang dari delapan penjuru mata angin. Tapi, mengapa, hanya dengan tiupan angin kentut saja, sudah membuatmu terpental dari seberang sana ke pulau terpencil ini, heh..?"
Mendengar jawaban gurunya, ia langsung menyesali kesalahannya.
Setinggi apa pun kebijakan yang terucap di bibir atau tertulis di buku tak lebih berarti daripada yang terpatri dalam hati.

Secangkir Kopi enterdie enterdie 0 Friday, April 01, 2011

Filename Secangkir Kopi
Permission DienarRobusta
Author enterdie
Date and Time Friday, April 01, 2011
Label
Action
Masih teringat selalu sore itu kau buatkan aku secangkir kopi yang sungguh nikmat. Kopi  terakhir buatan mu sungguh nikmat tiada tanding, walaupun secangkir kopi itu di tempatkan disuatu tempat yang sederhana dan saat menikmatinya hanya di tempat biasa saja, tapi bagiku secangkir kopi di senja itu begitu nikmat tak tertandingi (mengalahkan restoran berbintang lima). Mungkin kopi buatanmu di buat dengan racikan RAHASIA sehingga rasanya begitu nikmat dan menyegarkan. Itu semua hanya dugaanku saja, kopi buatanmu itu sebenarnya di buat dengan racikan yang biasa saja seperti orang lain pada umumnya, hanya saja ada satu RAHASIA  yang membuatku begitu menikmatinya. Rahasianya terletak pada KETULUSAN yang selalu kau agungkan, hanya itu yang aku mampu tangkap sebagai pesan terkahirmu.
Tapi sekarang aku tak akan pernah bisa merasakan lagi kopi nikmat buatanmu itu karena  kau telah berpulang ke kepadaNYA yang menghendakimu.
Kembali pagi ini aku menikmati kopi sendiri, tanpamu, tanpa dongeng masa mudamu..yaaaa..begitulah aku selalu merindukan kehadiranmu seperti dulu.. 
I really miss you my grandma..always love you.



║▌│║║▌│║║▌│║║▌│║║
Copyright©2011 by.enterdie

Nyata, Batas & Ilusi enterdie enterdie 0 Wednesday, March 23, 2011

Filename Nyata, Batas & Ilusi
Permission DienarRobusta
Author enterdie
Date and Time Wednesday, March 23, 2011
Label
Action
selamat datang nyata
sudah berapa lama kau bersanding dalam jiwa?
tidak bosankah kau dengan petaka.

dan hai!
apa kabar batas!
masih kuatkah kau mengekang raga?
selalu mengubur imaji dalam kepala.

kau juga iliusi..
bagaimana kabar pikiran yang selalu kau singgahi
apa mereka masih tertawa geli setiap hari?

datang membawa luka dan ceria
dalam dimensi warna
saat bumi terlampau tua

apa jadinya surga tanpa sucinya jiwa?
mungkin malaikat akan segera turun dalam nyata
melukis batas
lalu menggenggam ilusi

tak lama mereka berzikir
kiranya menangis..
untuk para jiwa manusia
karena terlalu mengagungagungkan dunia
lupa akan neraka..


║▌│║║▌│║║▌│║║▌│║║▌│║║▌
Copyright©2009 by.enterdie

ILUSI enterdie enterdie 0 Sunday, March 20, 2011

Filename ILUSI
Permission DienarRobusta
Author enterdie
Date and Time Sunday, March 20, 2011
Label
Action
Saya tak yakin, saya hanya pura-pura yakin
Saya tak mendengar, saya hanya pura-pura mendengar
Saya tak bicara, saya hanya pura-pura berbicara
(DieDieryDie)


Hati ini perih sebenarnya
tapi tak ada jalan lain
aku tak pernah boleh lemah juga lelah,
akupun tak pernah boleh takluk
hanya dengan itu aku bisa bertahan hidup


tapi...

selalu kegaduhan ini tetap saja terasa sepi
disini tak ada yang terlalu perduli
hanya ada tawa yang mabuk
hanya ada mabuk yang limbung
hanya ada limbung yang lupa
hanya ada lupa yang sejenak membuatku bahagia


tapi...
bagiku lupa tetaplah nestapa
bahkan ketika pengaruh alkohol menguasai rohku

Kenyataan yang menyakitkan memang
kisah tentang kehidupan tak selalu tampak sempurna pada tiap sudut pandang manusia
Bahkan bait-bait kehidupanku mungkin selalu terpenggal sekedar pengganjal daun pintu dunia peradaban


tapi mengapa juga aku harus memaki mereka yang berteriak dalam lara tak di perdulikan
padahal letih raga mencari serpihan hati nurani yang masih mampu memahami getirnya teraniaya
kesombongan macam apa yang aku pertunjukkan..
begitu aib air mataku ini jika aku alirkan

karena..
angin selalu ingin
membatin juga berkabar
saling salami suar lilin
: bermain, juga kelakar

namun badai yang kisar
tiada bermungkin :
menyentuh sinar
dan pijar
dan denyar

Ku telusuri kembali bayang-bayang jejak sepi di sebalik jendela beranda waktu kecilkuyang masih saja enggan ku tutup dari kenangan.
Masih sama ternyata..
Rupa kesedihan yang dulu coba ku tanam di tanah peradaban.
Hanya sekilas menghilang tersapu senyuman sang waktu.
Padahal seharusnya aku sadar..
Aku sebenarnya terlalu angkuh untuk mengakui bahwa aku takut untuk di tinggalkan dalam kesedihan.
Karena aku ternyata tak setangguh karang yang sanggup menentang ombak di tepian samudera
seperti kata nenekku

Jiwaku ternyata kerdil..
Membuatku tak mampu lagi melukis sketsa bahagia seperti dulu.
Padahal aku tahu pigura itu memiliki kanvas tak berpenghuni.
Aku selalu berteriak hanya untuk menyapa senja.
Padahal aku hanya takut akan sepi gelap yang menghiasi mimpi di tiap malamku

Akhirnya itu hanya membuatku berani menelusuri kembali bayang-bayang jejak sepi di balik jendela beranda waktu.
Sama seperti dulu..
Saat berulangkali bahagia meninggalkanku dalam tanya yang tak pernah terselesaikan
entah sampai kapan



Puncak, March, 21, 2011 ..02:30AM

The Right Now But... enterdie enterdie 0 Sunday, March 20, 2011

Filename The Right Now But...
Permission DienarRobusta
Author enterdie
Date and Time Sunday, March 20, 2011
Label
Action
Pagi tadi sebuah teguran dari satu diantara sekian banyak kaum hawa menelanjangi telinga juga mata hatiku,, kurang lebih seperti inilah yang mampu aku paham dari sekelumit kalimatmu tadi pagi..

"Jika kau mengira aku adalah keagungan yang angkuh,
maka aku hanyalaah kurcaci yang takut akan pusaran itu
jika aku menghindar adalah kesombongan bagimu
maka apa yang patut untuk aku sombongkan?
bukankah matahari juga tak selalu menampakkan sinarnya..?
dan bukankah kesombongan yang menjadikannya menghentikan sinar.
hanya kuasa sang pemilik raga yang menjadikannya terlihat sejenak angkuh
percayalah, bahwa dunia ini terlalu sederhana untuk dikalkukasikan dengan air mata
kenapa tak kau bingkai sedih dunia dengan senyuman....
percayalah, setiap rasa yang dimiliki raga hanyalah pantulan relatifitas
maka jika kau rangkai rakit rasamu dengan satu tali kepuasan,
bagaimana akan kau lewati arus yang begitu ganas....
maka simpulkanlah hatimu dengan fikirmu,
sampai kapan kau akan seperti itu??
mudah-mudahan akan kau dapati rakit rasa yang luar biasa."

"entahlah" hanya itu jawabku dalam hati

Bandung, March, 21, 2011.. 07:12 AM

Die Diery Die enterdie enterdie 0 Sunday, March 20, 2011

Filename Die Diery Die
Permission DienarRobusta
Author enterdie
Date and Time Sunday, March 20, 2011
Label
Action
Samudera mengganas juga meranggas yang menggagas selalu memunculkan nakhoda unggulan
jika kehidupan adalah samudera, kita adalah nakhoda itu,
jika tangan sudah mulai lelah menggenggam kemudi, matapun jenuh menatap laju kedepan, fikiran terlalu keruh untuk memikirkan bagaimana memecah gelombang menantang badai, maka berhentilah sejenak, sekedar menikmati keindahan yang telah lama terlupakan.
di ujung dek kapal Die Diery itu ada pemandangan warna biru sempurna, sebagai manivestasi dari warna kasih sayang sang pencipta,,
di setiap rakitan mekanisme waktu, tidak hanya menciptakan warna hitam dari oli berceceran. disitu banyak warna yang bisa mengajari tentang arti kepaduan juga kepedulian, 
tapi jangan pernah lengah juga lupa untuk kembali menantang badai dan gelombang.
karena setiap orang diciptakan dengan titik puncak kejemuan masing-masing,
the losser is..... mereka yang menyerah dan berhenti berusaha pada puncak itu,
dan the winner is..... mereka yang tidak mau menyerah dengan titik puncak yang ada, terus berusaha, dan tanpa ia sadari ia mampu melewati segala puncak yang awalnya terasa begitu berat........

hmmm... mungkin tulah teori sederhana akan makna kehidupan
Tuhan selalu Menuntut Kekalahan juga Kemenangan


Bandung, March, 21, 2011,  01:16PM

STUCK IN THIS MOMENT enterdie enterdie 0 Sunday, March 20, 2011

Filename STUCK IN THIS MOMENT
Permission DienarRobusta
Author enterdie
Date and Time Sunday, March 20, 2011
Label
Action
Terlalu banyak alunan nada pengantar ke sebuah titik poros
berlembar fabel yang mampu menenangkan lelapnya tidur,

membawa pada berbagai mimpi tentang binatang bersiul, bercanda dengan bahasa manusia
tapi Tuhan seakan mencipta 'stagnasi' pada setiap celah urat nadi manusia
pada putaran tari para mistikus sufi, mencetak laju yang diyakini mampu menggetarkan singgasana ARSY
apa lagi, tentang segerombolan materialis, begitu melamban

berpuluh tahun, demi menjangkau atap gedung yang mengungkung
entah dimana letak sebuah ketenangan dan kedamaian juga kebahagiaan
bahkan syurga pun mulai di perdebatkan tentang kekekalannya....
benarkah Syurga dan Neraka itu akan ada Tuhan...???


Bandung, March, 21, 2011, 01:07PM

Semu enterdie enterdie 0 Sunday, March 20, 2011

Filename Semu
Permission DienarRobusta
Author enterdie
Date and Time Sunday, March 20, 2011
Label
Action
Berjalan di antara ruang dan waktu
menanti kepastian dari kerikil pengganggu
karena Tuhan bisa menjelma dari segala penjuru
bahkan terkadang kebodohan menuntun wajah ini tengkurap, bersujud di antara selangkangan penawar candu

raga ini tercipta bukan sebagai malaikat dengan segala kebenaran,
akan tetapi bukan juga iblis yang membeku dengan laknat mutlak.

maka biarkanlah jalan yang ku pilih adalah lintasan penantian,
penantian akan sejumput kebahagiaan akan kewajibanku
karena aku tidak pernah berani untuk berkoar tentang setandan kurma
yang di unduh para bidadari dari agungnya pohon syurga...

Bandung, March, 21, 2011 01:00PM

SEBUNCAH SIANG MEMAPAH enterdie enterdie 0 Monday, March 14, 2011

Filename SEBUNCAH SIANG MEMAPAH
Permission DienarRobusta
Author enterdie
Date and Time Monday, March 14, 2011
Label
Action
sontak aku mendung
pekat layaknya hitam
:malam terpisah rimbun

legam menahan pecah
sekam meradang buncah
gemeretak meredam tumpah

berarak mencari sudut sepi
mencapai ufuk tersunyi
hujan demi :
tak membakar bumi

REALITA TAK PERNAH NYATA enterdie enterdie 0 Saturday, March 05, 2011

Filename REALITA TAK PERNAH NYATA
Permission DienarRobusta
Author enterdie
Date and Time Saturday, March 05, 2011
Label
Action
Sunyiku merawat bunyi
tidak untuk dinyanyi
diamku membungkam cerita
gaduhku membentuk semesta
:KIAMAT pada kata-kata

karena
HIDUP adalah kewajiban
Badai adalah silihan

dalam hidup ada badai
dalam badai ada hidup
badai dan hidup pasti bersilihan

maka biarlah waktu yang memilih
:pada saat musim sedang menyilih

rapuh rasa tiada asa
dibungkam atau terbungkam
dalam bisu yang panjang
seakan tenggelam sebelum layar terkembang
seakan mati sebelum mati
di bawah sepatu sang penguasa
hanya menunggu kaki_kaki waktu
berlari tinggalkan lara
terguncang pecah jantung derita

bertabur merah laksana bara
terbakar amarah picu asa
hancurkan ambisi runtuhkan ego

ahh...cukup rasa sajalah yang paham
dalam ilusi ataupun realita
begitupun logika.



Bandung, March, 04, 2011, 03:51AM

Only......Only Me and Only You enterdie enterdie 0 Monday, February 28, 2011

Filename Only......Only Me and Only You
Permission DienarRobusta
Author enterdie
Date and Time Monday, February 28, 2011
Label
Action
“I try to talk to you, but I don't know what to say. I am afraid you don't want me to say anything. So I don't... But inside of me there are words waiting to come out And tell you how I feel-like how I miss you. And how I love you despite my broken heart, And how I need you in my life. And especially how much I want you. But those words may forever stay in my heart-locked inside... Sometimes I wonder if there are words locked inside you too... but I'll never know.”

"I’m going to smile and make you think I’m happy, I’m going to laugh, so you don’t see me cry, I’m going to let you go in style, and even if it kills me- I’m going to smile.”
"You can shed tears that she is gone, or you can smile because she has lived. You can close your eyes and pray that she'll come back, or you can open your eyes and see all she's left. Your heart can be empty because you can't see her, or you can be full of the love you shared. You can turn your back on tomorrow and live yesterday, or you can be happy for tomorrow because of yesterday. You can remember her only that she is gone, or you can cherish her memory and let it live on. You can cry and close your mind, be empty and turn your back. Or you can do what she'd want, smile, open your eyes, love and go on.”


Bandung, Feb/28/2011, 07:47AM

Recycle Bin enterdie enterdie 0 Friday, February 18, 2011

Filename Recycle Bin
Permission DienarRobusta
Author enterdie
Date and Time Friday, February 18, 2011
Label
Action
Aku memang bukan orang pintar
seperti yang mungkin orang lain pikirkan
sebenarnya apa itu 'Pintar'???
akupun tak pernah bisa tahu
tapi aku bukanlah manusia tanpa rasa
karena aku manusia perasa
tak peduli orang menilaiku seperti apa
akupun tak pernah mau tahu
bagiku pintar hanya sekedar gelar
yang selalu dikejar para pencari gelar
ohhh… salah!

pintar itu sekedar awalan juga akhiran
seperti halnya kehidupan yang berawal dan berujung
dan sayangnya perjalanan hidupku belum pernah berujung
dunia ini kadang bagiku terlalu jahat
dunia ini tak pernah ijinkan aku sejenak menebak
hingga kapan ujung perjalanan hidup bisa terus berjalan?
apakah hingga akhir kepulan asap yang kuhisap??
bisa jadi.....

karena…
duniaku hanya sebatas puntung rokok
duniaku hanya sebatas seonggok layar datar
duniaku tak seluas alam pikiran kebanyakan orang
kadang aku merasa sunyi dalam keramaian
senyap dalam kehingaran
bahagiaku kadang hanyalah kamuflase
kamuflase dunia sekedar untuk menghibur diriku

karena…
aku hanyalah seonggok darah
darah daging seorang perempuan
seorang perempuan bervagina
seorang perempuan yang…
entah tak pernah aku tahu dimana
sebab akupun tak pernah mau tahu
aku hanyalah setetes mani seorang lelaki
seorang lelaki hidung belang??
bisa jadi...

karena…
aku hanyalah sejengkal otak
otak yang tak seberapa
otak yang mungkin sudah kadaluarsa
karena itu…
aku selalu berusaha mendaur ulang
juga meng-upgrade otak yang kupunya
dengan segala batas kemampuanku

karena…
aku hanyalah satu yang tak mungkin bisa Esa
aku hanyalah sosok berharga diri
harga diriku selalu tak terhingga harganya
aku tak pernah merelakan harga diriku terinjak ataupun diinjak
tak ada manusia mampu janjikan syurga ataupun neraka
aku hanya sebatas nalar terbatas
entah batas itu dimana?
entah akan dan harus kemana?
semua seperti tanpa arah


begitulah adanya diriku, nonaaa…
itu semua jawabnya
aku hanya seorang perempuan bervagina
hanya itu yang aku tahu juga DIA
dan seperti biasa
akupun tak pernah mau tahu

ahhh...
apalah aku ini nooonaa..
jangankan dirimu
jangankan mereka
aku sendiripun tak pernah tahu
dan tak pernah mau tahu

wajar bila semuanya memandangku sebelah mata
tanpa ada diriku
bagi mereka sama saja
apalagi engkau noonaa..
sebab akupun kadang demikian
ada atau tidak adanya seorang 'aku'
dunia ini tetap berputar

tapi nooonaaa..
apapun adanya diriku ini
aku masih punya tanggung jawab
tanggung jawab atas harga diri
tanggung jawab atas kebahagiaan
juga tanggung jawab untuk mempertahankan nyawa
seiring hembusan asap yang kuhisap
selama asap masih bisa kuhembuskan
aku tetap masih bisa merasa ‘ada’ dan bahagia
berbahagia atas kehidupan juga kemerdekaan jiwa
karena itulah tanggung jawabku kepada-ku juga -DIA

Baiklahh Nooonaa..
kembali atas nama 'PINTAR'
'PINTAR' dan juga 'BODOH'
konon katanya…
itu hanya sebatas kata dan juga rasa
itu semua tak perlu lagi kita perdebatkan
tak guna lagi beruraikan kata apalagi kalimat
biarkan saja waktu yang menguraikannya
tanpa harus memperalat kata untuk menjawab..

karena…
hidup ini hanya sementara
hidup ini bukan kita yang punya
hidup ini hanya sebatas titipan semata
bila tiba masanya, hidup kita akan sirna
hidup aku, kamu, dia dan mereka akan binasa
tak ada satupun makhluk yang bisa menolak
mengulur atau memundurkan takdir DIA

Begitulah adanya Dunia Nooonaa...
Dunia fana yang kadang fatamorgana

Bandung, 02:07AM, 18/2/2011
 

Tiada Tuhan Selain Tuhan © 2014 SINCE1999 of PHANTOM PLANET
DienarRobusta Template design by enterdie