ERROR
404 (Request Not Found)
today : | at : | safemode : ON
./ beranda ./ facebook ./ twitter ./exit /
name author permission com modified label
Showing posts with label #sebuahcerpen. Show all posts
Showing posts with label #sebuahcerpen. Show all posts

MISTERI KAOS BERKERAH enterdie enterdie 0 Thursday, May 22, 2014

Filename MISTERI KAOS BERKERAH
Permission DienarRobusta
Author enterdie
Date and Time Thursday, May 22, 2014
Label
Action

Kaos hitam oblong dengan gambar Batman lagi memeluk Robin yang kupakai, sudah meluntur.  Celana pendek tanpa kantong, membuatku menyelipkan selembar uang bernilai 10 ribu rupiah itu di celana dalam. Aku tidak pernah melepas gelang saat mandi, itulah mengapa tidak ada bedanya antara warna gelang yang kusam, dengan warna kulit tanganku yang belang. Dalam penampilan yang seperti ini, aku berdiri di depan pagar yang tinggi, menekan bel milik istana megah sang kekasih. Motor produksi Cina yang lampu sen kirinya rusak itu, kuparkir saja di pinggir jalan. Persis di samping pot raksasa yang terlihat lebih tertata rapi ketimbang rambutku yang membangkang. “Ting nong.. Ting nong..” Begitu suara bel-nya.

Ini pertama kalinya aku datang ke rumah Rini, kekasihku yang cantik keturunan Jawa. Aku tahu, penampilanku yang seperti ini akan menjadi fenomena. Tetapi apa yang bisa kuperbuat, bajuku yang lain masih basah karena terendam banjir yang melanda kota. Tidak ada maksud untuk meminta sumbangan. Pacarku memang kaya, tetapi rindu yang kurasa jauh lebih kaya raya darinya. Biarlah sekarang aku menjadi laki-laki, datang membawa kepalan rindu yang membabi buta.

Tiba-tiba sosok pria yang tinggi badannya lebih pendek dariku, datang membukakan gerbang. Meski lebih pendek, pria itu tetap terlihat lebih tua. “Cari siapa, Mas?” tanya-nya sopan. Bagus! Untunglah aku tidak dikira meminta-minta.

“Cari Rini, Mas. Rini-nya ada?” Begitu kataku, membalasnya dengan sama sopan. Aku tersenyum lebar, sambil merapi-rapikan rambut. Percuma, rambutku tetap terlihat seperti baru keluar penjara.

“Oh, Mbak Rini. Ada, ada. Silahkan masuk, Mas.” Ujarnya, mempersilahkanku masuk. Aku langsung mengajak motor sipitku itu masuk, ikut bersamaku. Pria itu, sepertinya tukang kebun. Karena kulihat ada selang yang panjang tergeletak pasrah memuntahkan airnya. Maka kutinggalkan motorku di pinggir gerbang garasi, kemudian aku melangkah menuju teras, mengikuti langkah pria itu.

 “Mau minum apa, Mas?” Pria itu bertanya lagi.

“Ah, ga usah repot-repot, Mas. Sirup juga nggak apa-apa kok.” Aku menjawab. Seketika suaraku terdengar serak, seperti menahan dahaga akibat tersesat di gurun Sahara. Pria itu mengangguk, lalu masuk ke dalam. Untuk beberapa saat, aku sendirian.

Saraf Okulomotor bekerja dengan baik saat ini. Menggerakan bola mataku ke segala arah. Sungguh, pemandangan rumah megah ini sudah terlihat indah meski hanya aku baru duduk di teras luar. Berbeda dengan rumahku, yang terlihat di depan teras hanyalah Vikki, anjingku yang sudah lama menjanda. Itupun beserta “ranjau darat” buatan Vikki yang entah kenapa, aku terus yang jadi korbannya. Tertawa geli sendiri jika aku mengingatnya. Di hadapanku sekarang, terdapat banyak tanaman-tanaman yang tidak murah. Ditata rapi oleh tangan yang teliti, terawat sekali. Melintang ke sebelah kanan, aku melihat ada sebuah kandang burung beo. Burung itu berkicau sesekali. Sepertinya belum pandai bernyanyi. Beo yang pendiam, persis seperti Rangga di “Ada Apa Dengan Cinta.” Burung itu menarik perhatianku. Aku berdiri, menghampirinya.

“Rangga, Rangga? Krrrr, krrrr…” Kujentikkan jemariku di dekat burung beo itu. “Rangga… ada gossip lho. Masih ingat Cinta? Cinta khan sudah menikah. Cukuliiiiin….” Sambungku sambil tertawa-tawa sendiri. Akan tetapi Rangga, burung beo yang baru saja sembarang kukasih nama itu, tidak menggubrisnya. Mungkin dia tersinggung, karena tatap mataku yang tajam ini, mirip Nicholas Saputra. Biar saja! Keberadaan burung beo ini cukup menghiburku. Mengisi waktuku sambil menanti Rini, kekasihku yang mungkin keluar dengan busana terbuka. Hehehehe.

Tiba-tiba ada yang batuk. “Uhuk.” Aku tidak mengenal suara batuk siapa itu, yang jelas aku tahu batuk itu berasal dari belakangku. Nah, sirup-nya datang. Aku menggosok-gosok celanaku, siap memegang gelas dan menenggaknya tanpa ampun. “Sebentar ya, Rangga. Nicho minum sirup dulu, nanti kita main lagi.” Aku berpamitan pada burung beo. Gila! Namun, setelah aku menengok, ternyata bukan sirup yang datang. Tapi,

“Sore, Om.” Aku terkejut. Gila! Badan tinggi besar, memakai celana pendek dan kaos berkerah putih yang bertuliskan KELUARGA BESAR MABES POLRI, berdiri di depanku. Itu ayah Rini. Seketika, aku menyapanya, tidak sempat membaca doa.

“SORE!” Jawabnya singkat, tegas. Seperti suara pemimpin upacara bendera pusaka di perayaan HUT RI yang pertama. “Cari Rini?” Tanya-nya kepadaku lagi, menatap dengan mata curiga.

Sial! Cari siapa lagi kalau bukan cari Rini. Dasar tukang tilang! Jika tidak mencari Rini, masa aku disini mencari gara-gara. Tidak mungkin pula jika aku menjawabnya, bahwa aku sedang mencari sesuap nasi. Namun jika sekarang aku berhadapan dengan sosok ayah pacar seperti ini, lebih baik aku mencari tali tambang lalu gantung diri. “MAMAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA…..!” Teriakku dalam hati.

“Iya, cari Rini, Om.” Jawabku singkat, lemah gemulai.

“Teman sekolahnya, Rini?” Tanya-nya lagi.

Sejak kemunculannya dengan kaos mengerikan itu, aku sudah mengira bahwa siang ini aku akan diguyur hujan pertanyaan. Sungguh aku ingin menjawab bahwa aku bukan teroris, tetapi aku takut. Aku takut kalau beliau tahu bahwa aku belum punya SIM. Sekarang aku bingung mau jawab apa, karena aku bukan teman sekolahnya Rini. Aku pacarnya Rini, pacar sekolahnya. Demi cinta monyetku pada Rini, tidak sekalipun aku mengakuinya sebagai teman. Meski dihunus pedang, ditodong pistol atau diancam ketapel, tetap aku akan mengakui bahwa “Aku adalah pacarnya Rini.”

Sambil meremas-remas bajuku, aku menjawab, “Saya pacarnya Rini, Om. Hehehehe.”

“PACARNYA?!!!!” Om itu kaget. Terdengar dari reaksi volume suaranya yang menggelegar. Reaksi yang mirip dengan ucapan “SIAP, GRAKKK!!!”

Apa jawabanku tadi salah? Ia menggeleng-gelengkan kepalanya.  Matanya melotot, memperhatikanku dari ujung kepala sampai ujung aspal. Aku tidak bergerak sama sekali. Aku takut tiba-tiba Om itu mengeluarkan Shotgun, lalu memasukkan moncongnya ke mulutku. Atau kemungkinan yang paling realistis adalah, aku diusir dari rumahnya karena penampilanku mirip dengan mantan narapidana.
Karena takut, aku berkata terbata-bata : “Baru 3 hari jadian, kok Om. Belum saya apa-apain. Demi Tuhan!” Keningku berkeringat. Punggungku seperti terpanggang, mataku berair, pipiku merah, hidungku bengkak, bibirku pecah-pecah, rambutku belum keramas, bahkan bulu kakiku merinding.

“3 HARI? BELUM KAMU APA-APAIN? EMANG MAU DIAPAIN? AWAS MACAM-MACAM SAMA RINI! NANTI KAMU SAYA PENJARA!” Ujarnya.

 Seakan ketika alam mendengar perkataannya, angin berhembus kencang. Meniup daun-daun gugur dan mengoyang-goyangkan pohon beringin. Di belakang Om itu, kulihat sirup sudah diletakkan di atas meja. Sungguh, aku ingin meminumnya, sebentar. Tenggorokanku semakin kering dibentaknya seperti itu. Andai aku boleh mengarang, aku akan menjawab, “PAPA SAYA KETUA KPK! AYO, SERAHKAN DAFTAR REKENING OM!” Namun sayang, aku hanyalah anak seorang janda, ayahku entah dimana.

“ASTAGA, OM TEGA BENER! YA ENGGAKLAH OM! “ Begitu kataku. Susah payah aku menahan kaki yang hendak bergetar-getar. Gempa dasyat mengguncang nyaliku.

Tiba-tiba, di waktu yang genting itu, malaikat penyelamat datang. Rini, dengan rambutnya yang masih basah, datang. Sambil menyisir-nyisir rambutnya, Rini memanja kepada ayahnya. Begini,

“Eh, eh, eh…. Uda kenalan. Gimana?  Pacarku ganteng, khan?”

Mendengar pernyataan itu, seakan seisi Taman Safari muntah-muntah. Sungguh, aku tidak tahu lagi apa yang akan dilakukan ayah Rini, setelah mendengar ucapan Rini barusan. Sepertinya tipis kemungkinanku sampai rumah dalam keadaan sehat selamat. Kemaluanku pasti mau diborgol, sementara mulutku disumpal sepatu ABRI. Sungguh, aku takut sekali. Rini, aduh……… :(

Namun situasi mendadak mencengangkan, ketika ayah Rini berkata.. “Iya. Ganteng!” Siapa yang tidak terkejut mendengarnya, ternyata ayah Rini juga menyimpan rasa padaku, sejak pertama kali berjumpa. #PRAAAKKKK! Tidak mungkin begitu! Aku menebaknya sebagai ucap kata yang berfungsi menjaga perasaan Rini, anak perempuan kesayangannya, satu-satunya. Meski lega, namun aku tetap berhati-hati.

“Rini, mama mana?” Om galak itu, bertanya pada Rini. Sementara aku diacuhkan.

“Di atas. Mau aku panggilin?” Jawab Rini.

“Ya Tuhan! Jangan tinggalkan aku sendiri lagi dengannya Rini! Nanti aku bisa dimasukkan ke kandang Rangga, burung pendiam itu. Tetaplah disini, please, please, please, love and gaul!” Jerit ratapku dalam hati.

“Iya, tolong panggil mama. Kenalkan juga sama pacarmu ini!” Kata Om itu.

Huaaaaaaaaaaaaaaahhhhh….! Muncul di kepalaku sosok berkonde, dengan sebuah keris sedang menodong ketekku. Matilah aku, matilah aku!

“Siap bos. Pasti mau ngomongin tanaman lagi.” Jawab Rini, patuh.  “Tunggu sebentar ya, Sayang.” Sambung pesannya terlempar ke telingaku. Rini pun pergi. Tinggal kita ber-4 ; Aku, Ayah Rini, Rangga Si burung beo dan segelas sirup.


“NAMA KAMU SIAPA? TINGGAL DI MANA? ASLI MANA? ITU MOTOR KAMU? SUDAH PUNYA SIM? BAPAK KERJA DIMANA? SAMPAI TERJADI APA-APA SAMA RINI, LIHAT SAJA!”


Begitulah berondong peluru tanya yang dilesatkan Om itu tepat di depan jidatku. Aku menjawab semua pertanyaan sulit itu, dengan berpura-pura meyakinkan. Padahal, sebentar lagi aku ngompol. Ini pelajaran, lain kali jika mau ke rumah pacar untuk pertama kalinya, aku harus memakai popok. Aku tahan sekuat tenaga rasa kebelet itu. Rasa gugup yang sama jika harus berpidato tentang 4 sehat 5 sempurna di hadapan suku kanibal.

“INGAT,  SAYA TIDAK MAU DIA PUNYA PACAR ANAK BERANDALAN MACAM KAMU!” Sambungnya lagi. Tidak lama, Rini dan Ibunya datang.

“Owalaaaaaa, ini toh…” Suasana meramai, sekotak es batu terbelah.

Ibu Rini menunjuk-nunjuk wajahku sambil tertawa. “Siapa namanya?” Sambung ibu itu bertanya padaku. Sedangkan ayah Rini, melangkah menuju kandang Rangga, mungkin memeriksa kesehatan burung beo.

“Zerry, tante.” Jawabku sopan, tetapi masih gugup.

 “Ooooo, Jerry. Duduk nak, duduk.” Ibu itu mempersilahkanku duduk.

 Rini ikut duduk di sebelahku, sedangkan ibu sempat melihat tanaman sebentar, lalu pamit masuk ke dalam. Ayah Rini beranjak mendekati motorku. Mati aku! Semoga Om itu tidak melihat bahwa kaca spionnya retak. Sesekali ia melirik ke arahku dengan tatapan menusuk. Untung bola mataku tidak bocor. Namun suasana agak mereda setelah itu. Aku dan Rini dibiarkan mengobrol. Padahal aku masih dalam keadaan gugup, meskipun aku berusaha menutupinya di depan Rini. Perlahan tapi pasti, kuteguk sirup itu untuk menenangkan. Sekitar 10 menit aku dan Rini berbincang-bincang, Om itu kembali cari gara-gara.

“Jelly, pinjam motornya!” Tawarnya, namun seakan mengancam.

“Hihihihihihi, emang bisa bawa motor?” Rini yang bodoh itu, malah tertawa geli.

“Aku mau denger suara mesinnya aja, Rin.” Jawab Om itu, pura-pura senyum.

“Boleh, Om.” Aku menyerahkan kunci motorku.

“BRUAAAAAAAAM…….. BRUAAAAAAM….. BRUAAAAAAAAAAAM……” Gas motorku digeber-geber ala pembalap liar yang sedang menguji motornya di bengkel. Tidak lama, mesin motornya dimatikan lagi. Om itu menghampiriku, menyerahkan kunci motorku. Tatapannya masih sama, tidak berubah. Arti tatap itu kemungkinannya hanya dua ;

1.    Om itu membenci penampilanku
2.    Om itu menyimpan rasa padaku.

Setelah itu, ayah Rini mengambil selang lalu memilih untuk menyiram tanaman. Melihat jarak yang jauh antara aku dan ayah Rini, kemudian aku berbisik…

“Rini, mama kamu asik ya..”

“Iya, mama emang asik.”

“Tapi, papamu galak ya.”

“Hiihihihihihihi..”

 “Kok ketawa? Galak tau!”

“Ituuuuuuuuuuuu, Om Wahyu! Dia tukang kebun, tapi uda kayak sodara. Bukan papaku. Papa khan lagi tugas, sayang. Galak ya Om Wahyu? Emang gitu, orangnya. Hehehehe….”


7 kepiting mendadak menstruasi, 5 cacing tanah breakdance, 13 kecoa memakai helm, 6 cicak minum baygon dan 34 ikan hiu, memakai behel. Aku? STROKE!!!!

GUUUBRRRRRRAAAAAAKKKKKKKKKKKKKKK………..!!!!




Cerpen by : Zarry Hendrik

Dunia di balik Awan enterdie enterdie 0 Friday, June 07, 2013

Filename Dunia di balik Awan
Permission DienarRobusta
Author enterdie
Date and Time Friday, June 07, 2013
Label
Action
Sesekali belanjaannya diturunkan dan ia benarkan rambutnya yang mulai melorot dari ikatan. Lalu kembali berjalan pulang. Matahari yang terik membuat perempuan itu sesekali mengusap kening, menyeka keringat yang mulai membasahi sedari tadi ia berjalan.
“Pagi de’ Sally…malem ini tugas lagi ngga ya kira-kira?”, seorang lelaki setengah baya menyapa ditengah perjalanannya.
“Emang kenapa oom? yang kemarin belum puas??…”, tantang perempuan itu sambil tersenyum genit. “Awas lho ntar kalau si Ibu sampai tahu”, goda perempuan itu berlanjut tanpa canggung.
“Ssst…asal sama-sama tahu saja kan beres”, jawab lelaki itu dengan sedikit mengerlingkan matanya.
                                                                                *** ***
“Aku pulang bu….”, teriakan Jingga di ujung pintu depan.
Tidak seperti biasa sore itu mukanya kusut, kucel dan seperti memendam sesuatu. Tanpa basa-basi, ketika bertemu dengan perempuan itu, Jingga langsung memberikan sepucuk surat beramplop rapi warna coklat ke tangan perempuan itu, dan bergegas masuk ke kamar dan menguncinya rapat-rapat.
“Apa ini, nak??”, tanya tanya perempuan itu sedikit keras agar suaranya terdengar kedalam kamar.
“Baca saja sendiri…”, sahut Jingga dari dalam.
Dibukalah amplop itu dengan sekali sobek di ujungnya, dibukanya lipatan suratnya pelan-pelan agar tidak ada yang terlewat oleh matanya. Kiranya itu surat dari sekolah. Ketikan komputer rapih, dan berbagai macam tanda tangan serta cap cukup menjelaskan bahwa itu adalah surat sangat penting. Cukup panjang isinya, namun dipertengahan sudah dapat ditebak isi dari surat tersebut.
“Ndo…mbo yo koe metu ndisik, ibu sudah masak tadi siang. Ayo makan dulu….”, perempuan itu mengetuk beberapa kali lalu didekatkan kepalanya di pintu.
Selang beberapa menit terdengar suara kunci diputar, JIngga keluar dengan masih mengenakan seragam putih abu-abunya, wajah sedikit tertunduk cemberut, juga mata yang memerah – sepertinya tadi ia menahan tangisnya – langkahnya diseret malas, lalu bersandar di pinggir batas pintu kamarnya .
“Kapan kamu terima ini?”
“Tadi sepulang sekolah Jingga dipanggil ke ruang kepala sekolah, trus Pak kepala sekolah kasih itu”.
“Terus?”, tanya perempuan itu lagi.
“Terus..terus..emang lagi parkir mobil..??”, jawabannya terdengar setengah ketus dengan kepala yang masih tertunduk kebawah.
“Iki bener wis telung wulan tho?”, seperti yang tertulis disana, bahwa tenyata sudah 3 bulan uang sekolah belum terbayarkan.
Tanpa menggubris perempuan itu Jingga berpindah tempat, duduk di samping meja makan yang letaknya tak jauh dari pintu kamarnya.
“Kalau masalahnya cuma tentang pelunasan uang sekolahmu, kan memang begini keadaannya. Toh uang-uang sekolahmu selalu bisa ibu lunasi walaupun selalu telat beberapa bulan. Kita bukan orang kaya, ndo…ibu pikir kita juga sudah sering begini tho? kenapa kamu jadi tiba-tiba harus bersikap seperti ini…”, kata perempuan itu sambil menghampirinya setelah terdengar mulai terisak.
“Kita memang bukan orang kaya, Bu... kita juga mungkin orang yang kehidupannya jauh dari sempurna…tapi…”, kata-katanya ditahan.
“Tapi kenapa??”, dibelainya rambut panjang itu pelan.
Jingga mendongakkan wajahnya menghadap perempuan itu, menatap dalam beberapa saat. Beberapa saat sebelum akhirnya air matanya deras menetes membasahi pipinya.
“Kemana ibu tadi malam? Pergi dengan Pak Herman lagi ya? Kulihat ibu diantarkan pulang olehnya tadi pagi”
“Ya biasalah ndo, oom Herman…kamu tahulah kerjaan ibumu ini. Semua kan juga demi kamu…”, jawabku dengan sedikit senyum yang kubuat sewajar mungkin.
“Ibu tahu?? Aku sudah lelah dengan sikap ibu yang seakan tidak perduli, bu. Sikap ibu yang seakan tidak perduli dengan apa yang ibu kerjakan setiap malam. Aku juga sudah lelah untuk selalu mendengar apa yang selalu di katakan tetangga tiap subuh ketika melihat ibu pulang. Bisakah ibu mencari pekerjaan lain yang lebih layak??”, tambahnya sambil berlalu ke meja makan dan duduk disampingnya.
“Ndo..mbo ya tenang sebentar..”, kataku lembut.
“Ibu tahu pekerjaan yang selama ini ibu lakukan salah. Tapi ndo…inikan semua juga demi untuk kita, untuk kamu, anak ibu yang ibu cintai”, lanjutku. “dan lagi, pilihan apa yang kita punya??”, kudekati dirinya dan meraih pundaknya.
“Ibu tahu apa yang tadi dikatakan pak kepala sekolah ketika menyerahkan surat ini?”, potongnya cepat setelah berdiri dan mengambil surat itu dari tanganku, kemudian mengarahkannya tepat kehadapanku.
“Dia bilang…jika memang tidak mampu membayar tepat waktu…ibu boleh datang setiap malam kerumahnya dan semua biaya sekolahku akan dibebaskan olehnya”, suaranya mulai parau dan tersendat dengan ingus yang mulai mengalir dari hidung mancungnya.
“Memangnya kita ini apa, bu??”
Aku hanya terdiam dan sesekali mengusap air matanya yang tak henti-hentinya menetes.
“Bu…kita bukan barang, kita juga bukan binatang, kita ini manusia. Dan setiap manusia selalu punya pilihan dalam hidupnya. Aku akan lebih rela untuk tidak bersekolah atau hidup kelaparan daripada harus melihat ibu, dan hidup kita yang terus direndahkan seperti ini, bu”, sambungnya lagi dengan muka yang seakan memelas lalu setelah itu menepis tanganku dan berlari kembali masuk ke kamar sambil menangis, benar-benar menangis.
Saat itu aku hanya terdiam, tak ada yang bisa kulakukan. Kakiku terlalu lemah untuk menopang hatiku yang sakit melihat Rona menangis tadi, mataku mulai memerah namun tak setitik air matapun keluar dari mataku. Aku terlalu takut untuk menangis saat itu. Tuhan, Bantu aku…

*** ***
Malam itu tidak berbeda seperti malam-malam lainnya. Seorang perempuan punya janji melayani.
Didepan meja rias kamarnya, dipakai gincunya tebal-tebal. Di poles pemerah pipi tipis namun tegas agar kecantikannya semakin mempesona.
Walau saat itu waktu sudah menunjukan pukul 12 malam. Hatinya tak gentar. Yang mungkin dipikirkannya saat itu adalah malam akan berbeda, bahwa malam itu akan menjadi malam yang panjang untuknya saat ini.
*** ***
Aku memang mungkin tidak layak berjalan dimuka bumi ini. Tubuhku telah kotor, sangat kotor dengan liur juga dengan beribu-ribu cumbu. Telah basah dengan rayuan lidah pria-pria berotak ngeres. Bahkan mungkin jika bisa, kemaluanku sudah seharusnya kucopot dan kuletakan lantas menanggalkan predikatku sebagai seorang perempuan.
Satu-satunya hal yang membuatku bertahan karena aku punya kamu. Buah hatiku yang berharga, penyemangat hidupku, pengganti nafasku ketika mulai terengah pada hujaman ke sepuluh dari laki-laki ketujuh. Tak kah kau mengerti…
Bulan purnama semakin mengawang di angkasa. Hari ini adalah pas sebulan Rona tidak pernah menegurku lagi. Mungkin hatinya terlanjur sakit. Maafkan ibu, nak. Sepertinya ibu mulai mengerti, kau memang benar… manusia selalu punya pilihan.
Ku ambil catatan kecil di saku belakangku, tabungan kita sepertinya sudah lumayan. Dua bulanan lagi uang yang terkumpul akan cukup untuk membuka warung kecil didepan rumah kita. Dan setelah itu, ibu janji tidak akan ada malam-malam lainnya kau tertidur tanpa ibu disampingmu.
Malam itu daerah Pasar Kembang tidak seperti biasanya. Gemerlap lampunya begitu meriah. Banyak tawa terdengar di setiap gang. Kiranya malam minggu ini akan banyak yang datang, mengingat akhir pekan ini adalah awal dari liburan panjang.
Aku tengah bersender di tiang gapura gang, Gang masuk menuju ke rumah – atau lebih tepatnya tempat – dimana aku memuaskan keinginan pria-pria mesum setiap malam.
Beberapa kali colekan pemuda mengagetkanku. Ada juga yang sekedar menggoda atau cari-cari kesempatan menikmati kulit halusku, lalu berlalu usai memberikan kecupan di pipi.
“Aduuuh…jangan cuma berani ngesun dong….”, teriakku dengan nada yang kubuat seperti kesal namun tetap terdengar menggoda. Cukup menggemaskan bagi setiap pria yang mendengarnya.
Tak sadar malam semakin larut dan gelap semakin pekat dibalik lamunanku. Menyadari itu, segera saja kumatikan rokokku dan beranjak.
Kulihat pertokoan sudah tutup. Tak ada cahaya lain selain lampu pinggir jalan yang menerangi jalan Malioboro malam itu. Dipinggirannya tampak tempat makan gudeg yang mulai digelar kelasanya, menggantikan pedagang pakaian yang telah sepanjang siang berjejer mewarnai jalan.
Terakhir tadi sudah yang ke tujuh. Sepertinya yang berikutnya akan jadi yang terakhir malam ini. Aku terlalu lelah untuk begadang dengan malam hingga fajar datang. Usia kepala tiga ini membuat badanku sering menggigil hingga ketulang-tulang. Lagipula sudah mulai kurasakan dua bongkah daging di dadaku juga semakin membeku terkena udara malam ini, batinku
Langkahku terus terayun seiring hawa yang semakin dingin disekelilingku. Lambat laun semakin menusuk…dingin…aneh, ini terlalu dingin, ada apa ini??
*** ***
Malam itu memang tidak berbeda seperti malam-malam sebelumnya. Mungkin tidak dengan riasannya, atau mungkin dengan pakaian yang sering digunakannya. Tapi tas besar yang dibawanya hari itu, membuat semuanya tampak sangat berbeda.
Tergopoh-gopoh membawa tas yang besar, perempuan itu berjalan menyusuri gang gelap. Menuju jalan raya di ujung gang tempat dimana ia biasa menghentikan angkutan umum saat akan pergi ke kota. Kemudian tanggap mengayunkan tangannya ketika di lihat sebuah taksi akan melintas.
Tidak…jangan ragu lagi…jangan lagi, hatinya terus memantapkan tekadnya malam itu.
1 jam kemudian sampailah wanita itu di depan sebuah penginapan. Penginapan kelas melati. Sedikit menyeramkan dengan bangunan tuanya, tapi kiranya cukup bersih untuk penginapan sekelas lainnya. Ayo..masuk…, lagi-lagi langkahnya dimantapkan.
206, tiga angka terpampang dihadapannya.
Tok…tok…tok…, diketuknya pintu itu dengan lembut. Lalu setelah semenit berselang dibukalah pintu itu oleh pria gagah setengah baya berkulit putih bersih – hanya dengan lilitan handuk dipinggangnya. Tersenyum dan mempersilahkannya masuk.
“Mau langsung sekarang?? atau mau ganti pakaian dulu? sepertinya pakaian kamu sedikit aneh untuk perempuan seperti kamu”, Tanya pria itu setelah merebahkan tubuhnya yang gempal ke atas kasur.
“Saya ganti baju saja dulu ya, oom…nanti setelah itu baru kita mulai”, jawab wanita itu dengan canggung, lalu segera berbalik dan menuju ke dalam kamar mandi dibelakangnya. “eh…sebentar, kita belum kenalan. Siapa namamu dik?”, Tanya pria itu sebelum wanita itu masuk.
“Lintang oom….Rona Lintang Aurora”, jawabnya singkat lalu menghilang masuk ke dalam kamar mandi.
Tertegun didepan cermin westafel, perempuan ayu itu membisu. Ibu… maafkan Rona ya, bu. Semua pada akhirnya harus seperti ini. Tak ada cara lain, bu. Sejak malam ditemukannya ibu pingsan di pinggiran Malioboro, penyakit bronchitis ibu semakin menjadi-jadi. Ditambah flu tulang yang ternyata telah diderita ibu sejak lama.
Keheningan semakin menusuk dan tak sadar pipinya telah dibanjiri air mata, Uang yang ibu kumpulkan juga sudah habis untuk biaya perawatan ibu selama dirawat di Rumah Sakit. Jadi sekolah juga terpaksa ku hentikan dulu bu…sampai nanti ibu sembuh.
“DIK!! Kok lama sekali??”, sahutan dari luar kamar mandi mengagetkan lamunannya. “iya oom…sebentar…”, jawabnya cepat sambil mengusap air mata.
Selang beberapa menit keluar lah ia. Keluarlah seorang Rona yang berbeda. Begitu berbeda dengan pakaian dalam hitamnya yang transparan.
“Wah dik…ternyata seksi sekali kamu…mari sini…”, panggil si pria sambil mengusap-usap dadanya yang dipenuhi rambut dan menunjukan muka tidak sabar.
Ya..memang inilah kita, bu. Aku, kamu dan dunia kita. Tak banyak yang dapat kita perbuat saat ini, Rona perlahan membawa tubuhnya naik keatas kasur.
Tapi pasti, bu. Bila tidak mungkin esok atau lusa, entah kapanpun itu, aku akan membuat pilihan seperti pilihan yang telah kau ambil malam itu. PASTI. Itu pasti, karena kita masih manusia. 



#sebuah cerpen 4 tahun lalu
 

Tiada Tuhan Selain Tuhan © 2014 SINCE1999 of PHANTOM PLANET
DienarRobusta Template design by enterdie